'W' ith yo 'U'


Sudah hampir setahun kita menapaki kaki kita disini. 
Ada banyak hal yang terlewati. 
Dan seperti biasa, suka duka kita lewati bersama. 
Meski tak sesering dulu, meski tak seperti dulu. 
Ya. Semua berubah seiring dengan berjalannya waktu.   

Entah, harus aku mulai cerita ini darimana.
Pada akhirnya aksara ini mengalir sendiri dari balik pikiran yang penuh dihiasi dengan kisah. 
Nampaknya, kisah-kisah kita sekarang jauh berbeda dengan kisah kita yang dulu. 
Kata maha yang berada di depan kata siswa menurutku membuat kisah perjalanan kita menjadi lebih bermakna.   

Rekam jejak perjalanan kita sejak awal memasuki bangku perkuliahan memang tak semua aku ingat. 
Namun perlu kau ketahui, bahwa aku selalu menyimpan kepingan perjalanan itu untuk aku albumkan dalam kotak kenangan.   

Politeknik Negeri Bandung. 
Nampaknya nama kampus tersebut begitu asing di catatan impian kita. 
Atau mungkin terselip di lembar terakhir buku kita? 
Entahlah, aku pun masih bertanya, mengapa harus Politeknik Negeri Bandung? 
Dan kau pun juga begitu, masih mencari jawaban yang terus kita pertanyakan selama ini.   

Politeknik Negeri Bandung. 
Mengapa harus Politeknik Negeri Bandung, Wid? 
Diantara sekian banyak kampus yang ada? 
Entah, sudah berapa kali kita mempertanyakan ini, dan pada akhirnya, Allah menjawab pertanyaan kita, lewat perantara seseorang kepadamu. 

Kau ingat? Malam itu, di perjalanan pulang setelah kumpul rutin MPM. 
Kita bercakap-cakap seperti biasa, membicarakan apapun. 
Dan tiba-tiba dirimu berkata, dan kau tahu? Itu adalah jawaban dari pertanyaan kita selama ini, Wid.   

Dan jika aku dan dirimu masih mempertanyakan mengapa harus Politeknik Negeri Bandung, dengan percaya diri aku akan menjawab, ‘Do’a’. 
Percaya atau tidak Wid, karena do’a seseorang yang begitu tulus lah kita bisa disini. 
Ada seseorang yang entah siapa itu, namun ia begitu tulus mendo’akan kita agar lolos SMB. 
Namun selama ini kita masih terus mempertanyakan mengapa harus Polban. Pantaskah, Wid? 
Ah, dan aku merasa malu karena selama ini kita terkesan begitu tidak tahu terimakasih dan tidak bersyukur. 
Ya Rabb, maafkan kami, maafkan kelalaian aku dan Widy selama ini :’)   

Hey Wid, dan satu hal lagi. 
Masih tentang Politeknik Negeri Bandung. 
Ia  memang tak pernah ada di catatan kampus impian kita.
Namun kau tahu? 
Allah telah tulis tiga kata tersebut di catatan takdir kita. 
Bahkan sebelum kita ada di dunia ini. Masihkah kita mendustakan apa yang telah Allah berikan hanya dengan pertanyaan ‘Mengapa harus Polban?’ 
Nampaknya cahaya Allah telah datang lagi pada kita Wid, dan ya, kita harus ambil cahaya itu dan mulai bersyukur bisa kuliah disini. 
Di kampus yang telah Allah pilihkan untuk kita. 
Dan mari kita bersama-sama berjuang di dunia baru ini selama enam semester kedepan.   

Masa perkuliahan, adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. 
Masa dimana seseorang mengalami ‘golden age’ nya masing-masing. 
Dan aku berharap, di masa ini lah kita mengerti dan paham tentang diri kita Wid. 
Mulai mengenal, jati diri kita masing-masing. Memang tak mudah, namun bukankah dengan bersama semua itu akan terasa ringan?  

Kau ingat, Wid
Aku akan sedikit menarik ingatanmu ke masa kita PPKK dulu. 
Ya, Program Pengenalan Kehidupan Kampus. 
Aku lupa, entah saat ‘Motivation Day’ atau ‘ESQ Day’, namun pada hari itu Allah kembali mempertemukan dua manusia absurd untuk menjadi soulmate. 
Kau ingat? Aku selalu ingin tertawa jika mengingat kejadian itu. Haha. 
Ketika itu, aku melihat kepalamu menyembul diantara sekian banyak kepala yang ada dihadapanku, dan dengan sedikit anggukan kepala, kita telah sepakat untuk menjadi soulmate di hari itu.   

Kadangkala, aku merasa terlalu banyak sekali kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam hidup ini. 
Namun setelah aku telaah, aku yakin tak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. 
Semuanya pasti telah diatur oleh-Nya serapi dan sesempurna mungkin. 
Termasuk kejadian hari itu. 
Ya, termasuk menyatukan aku dan dirimu untuk menjadi soulmate di hari itu. 
Dan aku berharap, kita bisa menjadi soulmate untuk seterusnya. 
Sampai jannah-Nya kelak tentunya.   

Berbicara tentang persahabatan, aku rasa tak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. 
Semua persahabatan pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. 
Dan terlepas dari itu semua, persahabatan yang sejati tak akan lepas dari yang namanya pertengkaran. 
Sehebat apapun dirimu dan sesabar apapun engkau, tiap-tiap insan memiliki hawa nafsu dan Allah selalu hadirkan itu untuk menguji dirimu. 
Sama hal nya seperti persahabatan kita. 
Aku tak menginginkan pertengkaran terjadi dalam lika liku persahabatan yang kita jalani, namun perlu kau tahu Wid, bahwa sandungan kecil selalu kita butuhkan untuk mengevaluasi diri kita masing-masing. 
Untuk menciptakan kepahaman agar kita saling memahami satu sama lain.   

Kau ingat sudah berapa kali kita bertengkar selama dua semester ini di Polban? 
Aku selalu ingin tertawa jika mengingat itu semua Wid. 
Karena konyolnya, pertengkaran yang terjadi diantara kita hanyalah karena persoalan kecil yang terlalu kita besar besarkan. 
Aku sih yang terkadang suka membesar-besarkannya. Hehehe. 
Namun aku tak pernah menyesal mengapa itu semua harus terjadi. 
Karena apa? Karena dari situlah kita mulai memahami satu sama lain dan menyadari betapa hangatnya sebuah persahabatan kita selama ini.   

Hari itu, tanggal 14 Agustus 2016. 
Kau membombardir diriku dengan berjuta kata-kata pedasmu. 
Dan aku tahu, ada emosi yang bergejolak terluapkan disana. 
Dari awal prolog sampai epilogmu itu, yang kudengar hanyalah kata-kata yang begitu pedas. 
Mungkin, jika aku konversikan ke level keripik pedas maicih, itu masuk ke level 10. 
Bayangkan, begitu pedasnya Ning!   

Aku bukan orang yang pandai berkata-kata, apalagi membela diri ketika di kritik dengan begitu tajamnya. 
Ku akui, semua perkataanmu itu benar. 
Nyaris tak ada yang meleset. 
Karena itulah, tak pantas kiranya aku membela diriku yang sudah jelas-jelas bersalah.   

Setiap ucapanmu kudengarkan dengan seksama. 
Beberapa diantaranya aku balas dengan anggukan kepala, dan kata-kata ‘oke’, ‘sip’ dan ‘iya’. 
Karena aku tahu, tak ada lagi yang bisa aku katakan selain itu. 
Lidahku terlalu kaku, bahkan untuk mengucapkan beberapa patah kata pun aku ragu.   

Kau tahu? 
Kritikmu bukan hanya menghancurkan dinding tebal pertahananku. 
Tapi ia juga berhasil menghancurkan sisi keras dalam diriku. 
Begitu luar biasa sekali kritikmu itu hey Ning!  

Kau tahu? 
Lagi-lagi ini tentang kritikmu. 
Hal yang paling luar biasa adalah, ketika aku sadar, bahwa kritikmu bukan hanya mampu menusuk sukmaku, tapi lebih dalam dari itu. 
Kau tahu apa itu Ning?
Ya, kritikmu mampu membuka tabir yang selama ini kututup rapat dari dunia luar. 
Dan sekarang ia terbuka lebar untuk menerima setiap masukan yang datang.   

Ning, tiada kata yang dapat aku ucapkan selain kata terimakasih. 
Karena berkat pertengkaran inilah aku dapat memperbaiki diriku sendiri. 
Karena berkat pertengkaran pertama kita inilah, aku jadi lebih mengenal diriku sendiri, dan tentunya berusaha untuk memahami dirimu juga. 
Karena persahabatan bukan tentang untung rugi, benar kan? 
Karena ketika sudah ada untung rugi dalam sebuah persahabatan, persahabatan itu tak lagi murni. 
Dan aku tak ingin seperti itu, karena persahabatan bagiku adalah tentang memberi dan memberi, tanpa pernah mengharapkan kapan kita harus menerima.   

Aku terdiam, menunggu ingatanku kembali dari perjalanannya. 
Tunggu sebentar, aku akan mencoba untuk membawa ia pulang dari perantauannya. 
Satu dua dan tiga, nampaknya ia telah datang. 
Baiklah, aku akan mulai bercerita kembali.   

Hey Wid. 
Semenjak di Polban, kita jarang sekali bertemu. 
Dan lucunya, kita belajar dalam satu gedung yang sama, namun tetap saja, batang hidungmu nyaris tak aku lihat. 
Kau adalah makhluk sipil yang jarang sekali aku temui. 
Entahlah, aku tak tahu sesibuk apa dirimu di sipil, namun yang pasti, aku yakin kau mulai mengukir cita-cita mu di jurusan yang dulu selalu kau pertanyakan itu. 
Dan aku bahagia, karena entah mulai detik keberapa dalam perjalanan kuliahmu, kau akhirnya menikmati hidupmu di sipil. 
Pertahankan Ning! Aku pun akan mulai mencoba untuk menyelami dunia ke elektro an yang awalnya kubenci.   

Kita benar-benar dua manusia sok sibuk ya. 
Aku selalu rindu masa-masa kita dulu, masa dimana membolang ke berbagai penjuru tempat dengan menggunakan google maps sesat. 
Ya, namun takdir berkata lain sekarang, kita disibukan dengan tugas-tugas kuliah dan organisasi yang selalu menunggu kita. 
Nampaknya kita harus mulai serius untuk menata masa depan. 
Mimpi yang telah kita tanam, aku harap bisa jadi kenyataan di masa depan dengan banyak perjuangan yang mesti kita hadapi.   

Masalah datang silih berganti. 
Kadang aku terlalu lelah Ning untuk menghadapinya. 
Kau selalu bercerita tentang kuliahmu di sipil, pun sama denganku, jurusan elektro pun tak semudah yang aku bayangkan. 
Namun aku teringat percakapan penuh hikmah di malam itu. 

Ya, sehabis kumpul rutin MPM, seperti biasa, kita pulang bersama. 
Tak pernah tak ada kata yang tak kita perbincangkan selama perjalanan. 
Kadang dirimu yang bercerita, setelah itu aku. Begitu hingga seterusnya. 
Dan jika sudah tak ada kata lagi yang kita bicarakan, angin lah yang berbicara, disusul keheningan dan dinginnya malam yang menyergap kita.   

Apapun  diperbincangkan, dan malam itu, kita saling bercerita tentang masalah seputar perkuliahan yang kita alami. 
Dan lagi-lagi dari percakapan kita, aku dapat mengambil satu hikmah besar Wid. 
Kau tahu apa itu? Ini tentang masalah Wid, bahwa sebenarnya, ketika Allah memberi kita sebuah masalah, Allah tak pernah menyuruh kita untuk mencari solusi. 
Allah hanya menyuruh kita untuk sabar dan sholat. 
Hanya itu Wid. 
Dan yang selama ini kita lakukan hanyalah mengeluh dan mengeluh, tanpa pernah tahu mengapa Allah memberi kita sebuah masalah. 
Ya, lagi-lagi dari perjalanan kita ada sebuah hikmah yang dapat kita ambil Wid.   

Dulu, bukankah kita sering mengeluh karena masalah datang? 
Namun sekarang, rasa syukur selalu terselip dalam hati kita ketika masalah itu hinggap. 
Karena apa Wid? 
Aku yakin, masalah ada untuk mendewasakan, bukan untuk membuat kita kekanakan.
Masalah ada, untuk membuat kita belajar, belajar dari kesalahan di masa lalu agar ia tak terulang lagi di masa depan. 
Dan lagi, masalah ada untuk membuat kita bersyukur, bahwa setiap langkah yang kita lalui selalu ada Allah yang senantiasa membersamai. 
Karena aku yakin, setiap kejadian yang kita lalui selalu terselip hikmah didalamnya, yang akan ditemukan oleh orang yang yakin bahwa masalah itu adalah batu loncatan agar kita lebih kuat dalam menjalani kehidupan.   

Apa lagi yang harus aku ceritakan ya? 
Nampaknya kisah-kisah dalam otakku terlalu banyak, dan mereka saling berebut untuk segera kutulis dalam cerita perjalanan ini. 
Sabarlah kisah, kalian pasti akan aku tulis, tapi nanti, karena kalian punya waktunya tersendiri untuk kutuliskan. 
Agar cerita ini menjadi suatu kisah yang padu untuk dibaca.   

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Salah satu organisasi yang kembali mempertemukan kita. 
Dirimu ingat alasan kita mengapa memilih KAMMI? 
Ah, nampaknya tak perlu kuceritakan ya karena itu sudah menjadi rahasia umum. Haha. 
Dulu memang alasannya hanya karena trio alif lam mim. Konyol ya. 
Namun aku rasa itu tak penting lagi, karena pada akhirnya satu tujuan besar kita haruslah kita capai Wid. 
Ya, terus memperbaiki diri. 
Kehidupan kuliah yang begitu keras memaksa kita untuk terus mengikuti alur kehidupan yang ada di kampus. 
Alhasil, iman kita kadang naik dan turun. 
Dan kita butuh asupan ruhiyah untuk menopang itu semua, dan ya, kita berharap salah satu LDK yang ada di kampus dapat menjadi penguat iman kita. 
Semoga dan semoga diri ini terus kuat dalam menghadapi segala hal yang mungkin akan terjadi.   

Bukankah telah banyak kisah yang kita ukir di KAMMI? 
Memang tak banyak yang berbeda ya Wid dengan apa yang ada di FDI dulu. 
Namun setidaknya, KAMMI memperkenalkanku akan dunia yang selama ini belum aku temui Wid. 
Ternyata dunia lebih kompleks dari yang aku kira, sistem pemerintahan, politik, dakwah, ummah, semua menuntut ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah yang siap dan kuat. 
Dan aku, suatu saat nanti bertekad ingin berkontribusi bagi kemajuan negeri, meskipun itu hal yang remeh sekalipun, namun jika itu berpengaruh, mengapa tidak?   

‘Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Itu amatlah dibenci disisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.’ 
Dua kalimat itu Wid, yang mengguncang kalbu ku ketika aku mengucapkannya. 
Ikrar yang begitu berat, sangat berat Wid. 
Namun dirimu tahu? 
Ada sebuah komitmen yang tersimpan disana, dan itu komitmen kita langsung dengan-Nya. 
Aku harap kita terus Allah bimbing untuk senantiasa mengerjakan apa yang telah kita katakan.    

‘Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh’ 
As-Shaf, ayat keempat. 
Kau tau apa artinya Wid? 
Bahwa amal jama’i itu begitu penting. 
Karena kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir. 
Pun dengan dakwah, kita tak bisa melakukannya sendiri.
Pun dengan memperbaiki diri, semua akan terasa menyenangkan jika dilakukan bersama. Berjamaah. Itu kuncinya. 
Karena jika seorang diri, akan begitu mudah untuk dipatahkan, namun berbeda dengan berjamaah, ia akan lebih kuat dan kokoh laksana sebuah bangunan. 
Maka dari itu Wid, mari kita sama-sama berjuang lagi. 
Berjuang untuk terus memperbaiki diri, bersama-sama dalam jalan dakwah ini. 
Memang berat, pasti banyak rintangan yang menerpa, namun tetap ingatlah, bahwa dalam setiap perjalanan, Allah pasti akan selalu bersama kita.   

Ada seseorang yang berkata padaku bahwa bagi penikmat sastra, setiap bunga memiliki filosofinya tersendiri. 
Dan itu memang benar. 
Kau tahu bunga Aster, Wid? 
Bunga yang berasal dari genus Callistephus.
Dalam bahasa ilmiah bunga ini disebut bunga Callistephus Chinensis. 
Dan bunga Aster adalah simbol untuk persahabatan.   

Tunggu, mengapa aku jadi membahas bunga? 
Nampaknya aku terhisap pada kenangan lama, sudahlah, mari kita mulai lagi dengan kisah berikutnya. 
Kisah apalagi yang akan aku tulis? 
Mari kita lihat.   

Majelis Perwakilan Mahasiswa. 
Organisasi kedua yang mempertemukan kita. 
Aku tak tahu mengapa tiba-tiba ada niatan dalam diriku untuk masuk MPM, padahal dulu aku benar-benar ingin masuk BEM. 
Sepertinya suratan takdir lagi yang membawaku untuk masuk MPM, lantas apalagi?   

Terlalu banyak kisah yang kita lewati. 
Aku bahkan sampai tak ingat Wid. 
Yang aku selalu ingat adalah bahwa kita bertemu setiap kumpul rutin MPM di hari rabu. 
Kemudian aku pulang denganmu dan seperti biasa kita selalu bercerita ini dan itu. 
Namun aku bersyukur, karena di setiap perjalanan pulang dari MPM lah selalu terselip hikmah yang bisa kita dapatkan. 
Hikmah-hikmah dari setiap obrolan yang kita perbincangkan. 
Kadang menceritakan kehidupan, masa-masa kuliah, masalah, organisasi, tugas, mimpi, masa depan, trio alif lam mim dan bahkan tentang takdir.   

Mimpi. 
Berbicara tentang mimpi, menurutku mimpi bukanlah sesuatu yang luar biasa yang dapat membanggakan diri kita, Wid. 
Namun mimpi adalah tentang kesederhanaan, sesederhana apa yang kita harapkan namun menimbulkan efek yang luar biasa bagi orang lain. 
Kata siapa tak boleh bermimpi setinggi mungkin? 
Bukankah ada pepatah mengatakan bahwa bermimpilah setinggi langit? 
Karena jika kau jatuh, kau tidak akan jatuh ke tanah, melainkan jatuh diantara bintang-bintang. 
Aku harap, Politeknik Negeri Bandung adalah jalan yang Allah berikan untuk meraih mimpi-mimpi kita ya Wid. 
Setelah semua penyesalan dan pertanyaan yang pada akhirnya satu-persatu mulai terjawab, aku yakin suatu saat nanti, ketika kita telah lulus, kalimat, ‘Aku bersyukur bisa masuk Polban, karena jika aku tak masuk Polban pasti aku tidak akan seperti ini’ akan terucap oleh mulut kita.   

Masa depan dan takdir. 
Adalah dua hal yang begitu berkaitan, Wid. 
Dan ada beberapa hal yang tidak dapat aku definisikan dalam hidup ini, salah satunya adalah tentang takdir.   

Akan menjadi apa dan seperti apa kita dimasa depan, adalah sesuatu yang begitu sulit untuk di definiskan bukan? 
Bukan berarti kita tak punya mimpi untuk menjadi apa, namun tetap saja, setiap jengkal cerita memiliki rahasianya masing masing. 
Termasuk takdir.   

Namun dirimu harus percaya Wid, bahwa apa yang kita lakukan hari ini, akan kita tuai hasilnya di kemudian hari. 
Karena itu sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa dibantah.   

Takdir, adalah sejauh mana kau percaya kepada-Nya. 
Percaya bahwa, setiap perjalanan yang kita lalui pasti memiliki hikmah tersendiri dibaliknya. 
Seburuk apapun kejadian, yakinlah, bahwa Allah selalu sisipkan cerita indah didalamnya. 
Yang harus kita lakukan hanya percaya, bahwa takdir-Nya pasti baik.   

Senja sore ini memang tidak terlalu cerah. 
Namun entah mengapa, setiap ide yang aku pikirkan begitu mudahnya aku tuliskan. 
Mungkin lembayung tidak muncul, namun percayalah, senja hari ini tidak kalah menarik dengan senja-senja kemarin.   

Dan aku tahu sekarang, Wid.
Bahwa takdir bukanlah sesuatu yang harus di definisikan. 
Cukup dengan percaya, maka kita akan bisa mendefinisikannya, dengan cara kita sendiri.   

Kau tahu? Bahwa semua kisah yang telah kita lalui selama ini adalah bagian dari takdir-Nya. 
Dan dari setiap takdir-Nya, Allah selalu simpan sesuatu yang dapat kita petik untuk dipelajari.  
Dan banyak hal telah kita dapatkan Wid. Mulai dari ‘Kenapa harus Polban?’, lalu ‘Kenapa harus ada masalah ini dan itu’, kemudian tentang ‘Peliknya masalah hidup dan kehidupan di kampus’ sampai dengan pertanyaan ‘Kira-kira akan jadi apa kita di masa depan?’ 
Takdir! Jawabannya adalah itu. 
Garis takdirnya pasti akan menjawab setiap hasta pertanyaan kita, Wid. 
Hanya tinggal menunggu waktu, maka semua akan terjawab dengan sendirinya. 
Terjawab entah dengan obrolan kita, atau dengan kejadian-kejadian yang membawa kita pada hikmah yang harus kita ambil. 
Atau mungkin dengan dipertemukannya kita dengan seseorang, yang entah siapa itu. 
Ingat, hanya percaya, bahwa takdir-Nya pasti baik.   

Berbicara lagi tentang takdir. 
Kau ingat ketika dirimu menceritakan kisah tetehmu yang penuh dengan ketidak-terdugaan? 
Lagi-lagi itu soal takdir. 
Dan jika dapat aku katakan, alangkah cantiknya takdir yang telah Ia siapkan untuk tetehmu. 
Dirimu bahkan tahu siapa orang yang selama ini tetehmu nantikan untuk menjadi teman hidupnya kelak dimasa depan.
Namun Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. 
Dan Allah berkata, orang itu lebih baik daripada orang yang selama ini tetehmu nantikan. 
Dan apa yang dapat aku ambil Wid? 
Tugas kita hanyalah memperbaiki diri dan mempersiapkannya dengan sebaik mungkin. 
Karena kita tidak tahu kapan ia akan datang menjemput kita. 
Selalu ingat bahwa jangan pernah mengharapkan seseorang untuk menjadi teman hidupmu kelak, karena jika takdir berkata lain, hanya kecewa yang akan kau dapat. 
Cukup dengan terus pantaskan diri, maka Allah pun akan memilihkan teman hidup terbaik untuk kita. 
Genggam dalam do’a, jangan dalam hati. 
Karena do’a adalah kurir tercepat dalam sampaikan rindu. 
Ikhtiar dan tawakkal. Serahkan semua pada-Nya. 
Bukankah Ia adalah sutradara terbaik dalam hidup kita?   

Oh iya Wid, tapi jangan terlalu sibuk untuk memikirkan teman hidup. 
Karena kita tak pernah tahu, apakah janur atau bendera kuning terlebih dahulu yang akan menyapa kita. 
Kuncinya adalah terus memperbaiki diri. Cukup.   

Dari sekian banyak hal yang kita perbincangkan, aku harap kita bisa menjadi semakin dekat dengan-Nya. 
Aku bersyukur, sangat sangat bersyukur. 
Karena hal-hal yang kita perbincangkan bukanlah hal-hal sia-sia yang akan membuat kita lupa akan hakikat diri kita. 
Ingat, tugas kita di dunia adalah untuk beribadah. 
Dan semoga, perjalanan-perjalanan ini menuntun kita untuk lebih mengerti bahwa hidup bukan hanya sekedar hidup. 
Namun ia adalah garis waktu yang telah Allah tetapkan agar kita lebih paham dengan hakikat penciptaan kita. 
Terimakasih untuk setiap perjalanan ini Wid. 
Terimakasih untuk motormu yang selalu membersamai. 
Terimakasih, karena telah banyak hikmah yang aku dapat dari setiap perjalanan kita.   

Hey Wid, aku bingung apalagi yang harus aku ceritakan. 
Kita bahkan jarang bertemu, tak sesering dulu, tak sesering kisah yang kita ukir bersama dulu.  

Kita hanya bertemu ketika ada kumpul rutin MPM, atau ketika ada kegiatan KAMMI, atau ketika Allah takdirkan kita bertemu di Polban. 
Bukankah semenjak di POLBAN kita jarang sekali membolang? 
Bahkan hampir tak pernah ya.
Jadi maafkan aku jika tak terlalu banyak kisah yang dapat aku ceritakan. 
Tapi meskipun begitu, bukan berarti pertemuan kita tak menghasilkan sesuatu untuk kita kenang. 
Semua cerita memiliki porsinya masing masing untuk mengajari kita sesuatu.   

Trio Alif Lam Mim. 
Julukan yang aku sematkan untuk mereka. Haha. 
Rasanya ingin tersenyum kala aku mengingat mengapa aku memberi mereka sebutan itu. 
Kau ingat Wid? 
Mereka hampir sering sekali menjadi bahan obrolan kita. 
Bukan karena apa-apa, namun karena selalu saja ada sifat dari mereka yang harus kita teladani. 
Belajar dari mereka adalah sesuatu hal yang begitu luar biasa. 
Aku yakin, kita pun bisa seperti mereka Wid. 
Mari kita belajar dari sosok hebat seperti mereka. 
Meskipun terkadang, ada beberapa sifat dari mereka yang begitu kita tak suka. 
Tapi percayalah, mereka sedingin kulkas karena mereka tahu apa yang mendasarinya.   

Di mesjid itu, pernah terjadi pertengkaran kita yang kedua. 
Kau ingat tidak? H-1 sebelum aku pergi ke Solo, timbul pertengkaran yang tak pernah aku harapkan. 
Pasalnya, setelah itu kita menjadi dua manusia sedingin es. 
Dan malam itu juga, kau mengirimkanku sepotong surat. 
Dan lagi lagi, aku ingin menangis karenanya. 
Dan lagi lagi, aku kalah cepat dengan dirimu. 
Dan lagi lagi, aku merasa seperti seorang anak kecil kala itu. 
Ah, maafkan aku.   

Aku tak sebaik yang kau ucapkan, namun aku juga tak seburuk apa yang terlintas dihatimu. 
Aku bergeming. 
Persahabatan begitu rumit ya? 
Ketika kita saling menuntut hanya untuk dimengerti. 
Ketika kita saling mengedepankan ego hanya untuk dipahami.   

Hey sobat, dengarlah ini. 
Jika aku salah, tolong ingatkan. 
Jika aku salah, tolong tegur dan luruskan. 
Karena aku masih belum sebaik dirimu. 
Karena aku masih jauh dari kata sholihah. 
Karena aku masih harus terus dibimbing dan diingatkan. 
Karena aku, tidaklah sempurna.  

Hey sobat, dengarlah ini. 
Aku tak pernah memaksamu untuk melakukan ini dan itu. 
Aku hanya mengingatkanmu, itu saja. 
Karena perlu kau tahu, bahwa itu adalah kewajibanku. 
Kewajibanku untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. 
Selebihnya terserah padamu, mau mendengar atau tidak. 
Namun aku harap, dirimu mau mendengarkanku.   

Sekiranya aku memang menjadi beban untukmu, aku minta maaf. 
Maaf karena telah melukai.
Maaf karena telah menyakiti. 
Maaf karena, aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untukmu.   

Setelah menerima surat darimu, aku sedikit lega. 
Karena aku bisa berangkat ke Solo dengan hati yang lapang. 
Meskipun belum bertemu langsung denganmu untuk meminta maaf. 
Namun aku yakin, sepotong balasan surat dariku sudah cukup untuk membuat diri ini tenang.   

Entah kenapa, diperjalanan menuju Solo, aku ingin menulis sesuatu. 
Aku mohon, sempatkanlah untuk membacanya.   

Hey Senja! 
Kau pun tahu bahwa aku adalah pendengar yang baik. 
Bahkan aku adalah pendengar setia dari setiap ceritamu. 
Lantas bisakah kau tak perlu lagi ragukan kesediaanku untuk selalu mendengarkan ceritamu?

Hey Senja! 
Aku rasa kita sudah sama-sama dewasa. 
Sudah sama-sama mengerti pula. 
Jadi jika timbul sekelumit masalah dan terjadi gesekan kecil diantara kita, aku rasa itu adalah sesuatu yang wajar. 
Lantas bisakah kita saling toleransi dan berusaha untuk saling memahami?   

Hey Senja! 
Aku kira kau pun tahu bahwa kekuatan persahabatan terletak pada saling percaya. 
Dan kau pun tahu bahwa aku selalu mempercayaimu. 
Lantas bisakah kau tak perlu lagi ragukan aku hanya karena raut wajahku yang memang sudah seperti itu?   

Hey Senja! 
Aku merasa tersanjung ketika kau bilang bahwa kau merindukan tulisanku. 
Sejujurnya aku sedang tak ingin menulis. 
Namun perlu kau tahu bahwa kata-katamu itu selalu menjadi magnet untuk menarik semangatku.   

Hey Senja! 
Aku kira kita harus luangkan waktu berdua. 
Untuk sekedar makan es krim bersama. 
Haha, kalimatku yang terakhir ini tak perlu kau anggap bercanda.   

Hey Senja! 
Kutitip namaku dalam do’amu. 
Dan tunggu kepulanganku. 
Aku berjanji akan menceritakan pengalaman ini padamu. :)

Sekembalinya aku dari Solo, masih ingat pertemuan kita di masjid Luqmanul Hakim sehabis shalat maghrib? 
Kala itu aku sedang menunggu seseorang, aku lupa siapa. 
Dirimu tiba-tiba datang dan mendekapku dengan penuh kehangatan. 
Itu pertemuan kita yang pertama sekembalinya aku dari Solo. 
Ah, betapa rindunya, aku jadi ingin menangis mengingatnya.   

Ingat tidak, tanggal 3 Mei kemarin?
Malam itu dirimu mentraktirku makan es krim. 
Wah, nampaknya permintaanku terkabul ya. 
Padahal dirimu bukan jin yang harus mengabulkan tiga permintaan Aladin. Haha. 
Di hari itu pula aku ceritakan pengalamanku ketika di Solo. 
Ya, entah kau setuju atau tidak. 
Aku tunggu dirimu untuk DM2, Wid. 
Apakah dirimu siap? 
Ya, persiapkan dari sekarang ya Ning!   

Ah, jemariku lelah mengetik. 
Selagi aku beristirahat, aku berusaha mengingat kisah apalagi yang harus aku ceritakan. 
Dan huwala humba, aku ingat sesuatu.   

Kita adalah dua manusia tak berpendirian yang pernah ada. 
Kau ingat saat dauroh PMB yang diadakan saat pekan-pekan terakhir ramadhan sebelum lebaran tiba? 
Bukankah kita telah sepakat untuk tidak ikut? 
Karena ada beberapa alasan yang menguatkan itu. 
Namun hari itu, tiba-tiba pendirian kita goyah hanya karena kita tak tegaan dengan permintaan orang lain. 
Pada akhirnya aku dan dirimu berangkat juga ke Polban untuk melaksanakan dauroh PMB. 
Meskipun kita sangat terlambat untuk datang kesana, tapi daripada tidak datang sama sekali. 
Ya begitulah.   

Masih ingat tidak apa kesepakatan kita di perjalanan saat menuju Polban? 
Kita telah sepakat untuk pulang setelah shalat tarawih, setelah sebelumnya kita berdebat siapa yang harus memutuskan itu semua.
Dirimu berkata semua terserah padaku, namun aku bilang bahwa aku ikut saja apa keputusanmu. 
Ah, semua itu membuat aku gila. 
Dan pada akhirnya aku yang memutuskan kesepakatan itu, ya, kesepakatan untuk pulang setelah shalat tarawih.   

Dan jeng jeng.. 
Berbagai hasutan datang menghampiri kita, dan ya, jika kita telaah lebih seksama, sebenarnya itu bukan hasutan, namun lagi-lagi aku merasa itu adalah seruan dari-Nya melalui perantara orang lain agar kita tetap tinggal. 
Awalnya aku memang ragu Wid, tapi hari itu, banyak orang yang meyakinkanku untuk bisa melewatinya. 

Malam itu, aku begitu terharu karena mereka menyemangatiku untuk bisa sembuh. 
Dan bukankah mereka bilang bahwa mungkin ini adalah salah satu jalan dari-Nya untuk ku agar dapat membiasakan diri? 
Ya, dan dirimu pun berkata ‘Bismillah weh Fa’ 
Baiklah, dengan tekad untuk sembuh, aku jadikan ini sebagai salah satu sarana yang Allah berikan padaku untuk belajar. 
Bantu aku untuk meyakinkan diri Wid, setelah sekian banyak hal yang membuat aku frustasi. 
Aku ingin sembuh. Dan aku yakin pasti bisa sembuh.   

Ingat tidak? 
Setelah itu kita berjanji untuk lebih konsisten lagi. 
Untuk lebih berpendirian teguh lagi. 
Ya, mari kita susun strategi bersama untuk semakin meneguhkan pendirian kita. Hahaha.   
Dalam hening, aku berbisik. 
Dalam diam, aku merenung. 
Dan dalam getir... aku mengadu.   

Dari setiap langkah kaki kita disini, aku rasa semua tak ada yang sia-sia. 
Mungkin sedari awal sempat ada sedikit penyesalan yang muncul. 
Konflik batin yang melanda dan rasa kecewa yang tak terbendung. 
Tapi yakinlah, ada sebuah pelajaran dari semua ini yang dapat kita telan.   

Memang terasa pahit, namun setidaknya itu menyembuhkan. 
Menyembuhkan setiap luka yang sempat hadir. 
Menyembuhkan setiap kecewa yang pernah ada. 
Dan menyembuhkan setiap penyesalan yang pernah menyeruak.   

Jika suatu saat nanti kesibukan datang menghampirimu. 
Jika suatu saat nanti rasa bosan menyerangmu. 
Dan jika suatu saat nanti kau telah berada di titik lelahmu. 
Ingatlah, bahwa akan selalu ada lantai untuk bersujud, dan telinga yang selalu siap mendengarkan. 
Mendengarkan setiap keluh kesahmu yang terkadang bernasib sama seperti yang aku rasakan pula. 
Entah sudah keberkian kalinya aku memproklamirkan ini, tapi aku memang pendengar yang baik, Wid. 
Kau bisa bercerita apapun padaku, dan dengan menggelar tikar, aku akan mendengarkan. 
Nah loh jadi kaya di kaskus :D   

Aku memang bukan sahabat yang sempurna untukmu, Wid. 
Selalu ada kekurangan yang bisa kau temukan pada diriku. 
Namun selalu ada pula kelebihan yang tersimpan di dalam manusia absurd sepertiku.   
Bukankah persahabatan adalah tentang saling melengkapi? 
Bukankah persahabatan adalah tentang saling memberi? 
Dan bukankah persahabatan adalah tentang saling memahami?   

Sahabat bukanlah seseorang yang selalu ada hanya disaat suka, namun ia juga yang selalu ada disaat duka. 
Bukan seseorang yang selalu ingin menerima, namun selalu siap memberi dan memberi tanpa harus berpikir kapan ia harus menerima. 
Bukan seseorang yang berpikir untuk dirinya saja, tapi bagaimana caranya agar sahabatnya pun ikut berbahagia.

Sekali lagi, terimakasih untuk setiap jengkal cerita yang telah terukir. 
Terimakasih untuk setiap kisah yang telah kita lalui. 
Terimakasih untuk setiap kata yang tak bisa aku sebutkan satu persatu. 
Terimakasih untuk setiap dekapan hangat yang kau berikan ketika aku merasakan lelahnya dunia kampus. 
Dan terimakasih, untuk setiap do’a yang telah dirimu panjatkan tentangku.   

Aku tak mengerti, tulisanku memang selalu abstrak. 
Aku masih penulis amatir, Ning. 
Mohon mengertilah. 
Maaf untuk paragraf yang tidak berkorelasi satu sama lain. 
Lain kali aku akan merangkai cerita yang lebih baik dari ini. 
Untuk kesekian kalinya, nampaknya semua kisah yang aku simpan dalam kotak kenangan sudah semua aku tuliskan disini.   

Kau percaya? 
Siang tadi hujan turun begitu derasnya. 
Nampaknya begitu lebat hingga angin meniup segala yang ada. 
Dan hey, akhir-akhir ini aku mengalami delusi dan rasa kaget yang berlebih. 
Kadangkala aku merasa ingin terpenjara dalam ruangan hitam. 
Namun semua itu aku tepis, karena aku takut kegelapan.   

Ah baiklah, lupakan itu semua. 
Aku sekarang berpikir kata apalagi yang harus aku tulis. 
Aku bahkan tak menyangka aku telah mengetik sebanyak 4.532 kata. 
Karena tak pernah ada kata pembuka, aku pun tak harus menutupnya, Wid. 
Karena aku yakin masih banyak kisah yang nanti akan kita ukir. 
Masih banyak perjalanan yang akan kita lalui. 
Dan masih banyak kerjadian-kejadian yang pasti akan datang. 
Yang pada akhirnya semoga semua itu menjadi pelajaran berharga bagi kita. 
Menjadi jembatan kecil yang akan menghubungkan setiap mozaik yang ada. 
Untuk menjadi sebuah puzzle yang sempurna dimasa depan.   

Untuk keluarga hangatku. 
Saudara seimanku. 
Sahabat seperjuangan. 
Rekan kechaplinan. 
Teman bertengkar. 
Dan kawan kebahagiaan. 
Tak henti hentinya aku ucapkan terimakasih untuk setiap waktu yang kau sempatkan. 
Maaf bila selama perjalanan kita ada banyak tingkahku yang tak mengenakkan.   

Sahabat. 
Satu kata yang memiliki filosofi tersendiri untukku. 
Memiliki makna yang begitu dalam. 
Sahabat. 
Satu kata sederhana, namun mampu menjadi pengobat luka.   

Ingatlah Wid, bahwa untuk kedepannya, masih banyak tantangan yang harus kita hadapi. 
Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap. Semua itu pasti datang. 
Mari kita siapkan bekal terbaik untuk masa depan. 
Dan gapai mimpi kita yang selama ini telah kita tanam.   

Masih ada enam semester kedepan. 
Mari kita sama-sama ukir cerita lagi, untuk aku simpan dalam kotak jingga yang telah aku persiapkan. 
Sampai jumpa di perjalanan kita selanjutnya, Wid. 
Selalu semangat dan jangan pernah lelah untuk berjuang ya.
^^


Cimahi, 28 Juni 2017
16.51 P.M.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN PEMBELAJARAN DIAGNOSA WAN

Kala Senja Tak Lagi Jingga