Kala Senja Tak Lagi Jingga
Part 1
Surat Misterius
Hari
masih pagi, namun sudah terdengar suara berisik dari arah dapur. Aku tau itu
bukan ulah kucing tetangga sebelah yang hendak mencuri ikan goreng yang baru
ibuku masak. Namun itu suara dua orang manusia yang sedang berdebat, beradu
pendapat yang aku yakin tak akan pernah selesai hingga perang dunia ketiga jika
tak ada yang mau mengalah.
“Ja,
aku mengandalkanmu” Raya menyikut lenganku.
“Biarlah,
biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri” ucapku acuh.
Ada
rasa tak enak ketika aku mengatakan itu pada Raya, tapi toh, apa yang bisa
kuperbuat? Melerai mereka yang nantinya akan berdebat lagi? Aku bicara pun tak
didengar!
“Ja,
emang kalau aku ga ada dirumah mereka kaya gitu ya?” tanya Raya padaku.
“Ya”
jawabku agak malas.
“Kalau
kaya gini mending balik ke depok dah”
“Aku
juga mending rantau lah sekalian. Dirumah pun untuk apa? Hanya sekedar
mendengar dua manusia saling mempertahankan ego masing-masing tanpa memikirkan
perasaan anaknya?” ucapku agak kesal kali ini pada Raya.
“Hush
ga boleh gitu, kalau kamu ngerantau, nanti siapa yang bisa aku andalkan untuk
tetap menjaga ibu dan bapak? Aku masih belum percaya sama Lia, Ja”
“Aku
tak peduli”
Aku
beranjak pergi menuju kamarku dan mengunci pintu.
***
Aku,
Senja Wardhana, anak ketiga dari empat bersaudara. Mempunyai dua kakak dan satu
adik. Kakak ku yang pertama sudah menikah, namanya Fitri Wardhana, sekarang
tinggal dirumah suaminya. Kemudian Raya, nama lengkapnya tentu
saja Raya Wardhana, sekarang sedang sibuk mengurus skripsinya di universitas
ternama di depok. Yang ketiga tentu saja aku, Senja Wardhana. Mungkin pada
awalnya banyak yang bertanya, Senja itu perempuan atau laki-laki sih? Aku hanya
menjawab dengan sederhana ‘Senja itu indah’. Dan kemudian mereka hanya terdiam
tak mengerti. Dan terakhir si bungsu,
Lia Wardhana, sekarang ia duduk di bangku SMA, sudah anak SMA tapi sifatnya
masih saja manja.
Aku
selalu merasa gagah mewarisi nama wardhana dari bapakku, entah kenapa, tapi itu
terdengar begitu keren. Diantara kami ber-enam, hanya bapak satu-satunya orang
yang paling kasep. Ya, itu artinya Senja itu perempuan.
Diantara
ketiga saudaraku, aku paling dekat dengan Raya. Tak sopan memang karena aku tak
memanggilnya dengan embel-embel teteh atau kakak. Tapi aku tak peduli, toh aku
hanya beda dua tahun dengannya.
***
“Kenapa
malah dikasihin? Udah tau nyarinya sekarang susah!” protes ibuku.
“Ya
udah ga apa-apa lah, kan bisa cari lagi”
“Bukan
masalah cari lagi, sekarang semua toko kan udah tutup” ibuku tetap sengit.
“Yaudahlah,
semua udah terjadi! Ga mungkin kalau harus diambil lagi.” kali ini nada bapakku
meninggi.
Kemudian
suasana makin panas, ibu dan bapak sahut-sahutan demi membela diri
masing-masing.
Aku
menyumpal kupingku dengan headset agar suara dua orang manusia yang sedang berdebat itu tak terdengar
lagi.
Rasanya
sekarang aku ingin pergi.
Menuju
andromeda yang sepi.
“Ja,
bangun! Bantu aku melerai ibu dan bapak!” Raya menggoyangkan tubuhku.
“Apa
sih? Aku masih ngantuk”
“Ja,
ibu nangis” bisik Raya padaku.
Mendengar
itu aku langsung bangun dan memaksa Raya untuk cerita.
Ya
Allah, setelah mendengar cerita Raya, aku termenung. “Jadi selama ini aku anak
macam apa?” aku berteriak dalam hati.
“Ja,
besok aku mau balik ke depok nih, skripsi belum selesai, kudu bimbingan juga
sama dosen. Aku titip ibu sama bapak ya. Kalau mereka adu omong lagi, kamu
recokin aja, biar makin rame. Haha”
“Dasar
semprul kamu, Ray” aku tersenyum kecut
Kemudian
Raya pun tertawa.
Bahkan
disaat-saat seperti ini, Raya masih bisa bercanda. Namun tak apa, setidaknya
itu bisa menghiburku.
***
“Bu,
Pak, Raya pamit pergi ke depok ya. Do’ain Raya semoga skripsinya cepet beres.” ucap Raya sambil mencium tangan ibu dan bapak.
“Ja”
Raya menyodorkan kepalan tangannya padaku, dan kusambut dengan kepalan tangan
pula. Aku selalu menyebut ini dengan ‘ces kepalan’.
“Assalamu’alaikum”
ucap Raya sebelum ia pergi.
Raya
mengedipkan matanya padaku sebelum ia menutup pintu pagar. Aku membalasnya
dengan senyum tipis.
***
“Senja,
nyapu di teras sana. Halaman rumah udah berantakan, banyak daun-daun
berserakan”
“Iya
bu” ucapku.
“Sekalian...”
“Sekalian
daun-daun yang udah dikumpulin ‘dirawu’ terus dimasukkin ke kresek. Iya kan?”
aku meneruskan kalimat ibuku dengan fasih.
Beberapa
menit kemudian, aku sudah siap-siap untuk menyapu di teras. Aku bersenjatakan
sapu dan kresek. Masker pun tak ketinggalan, dan jeng jeng, aku siap.
Aku
menyapu sambil sesekali bersenandung kecil. Kulihat daun-daun yang berguguran
dari pohon, mereka sudah tua rupanya, apakah bisa kubuat pupuk ya? Pikirku.
Tiba-tiba
ada gadis kecil menghampiriku.
“Teh,
ini ada surat buat teteh” gadis kecil itu menyodorkan sebuah surat padaku.
Sebelum
aku sempat bertanya, ia sudah lari dengan begitu kencangnya.
“Hey,
tunggu!” aku berteriak berharap ia mendengarnya dan kembali untuk menjelaskan
surat ini. Tapi sia-sia saja ku berteriak. Gadis itu telah menghilang dari
pandanganku.
Tak
sabar, aku segera membuka isinya kemudian membacanya.
Untuk : Senja Wardhana
Kala Senja Tak Lagi
Jingga
Selamat senja hai Senja
Salam berdarah dari aku si haus darah
Nampaknya senja masih bernuansa jingga
hari ini
Tapi nanti, akan aku buat warna senja
menjadi merah menyala
Bermandikan darah membasahi dirimu
Selamat senja hai Senja
Salam kelam dari aku si pekat malam
Nampaknya senja masih bernuansa jingga
hari ini
Tapi nanti, akan aku buat warna senja
menjadi abu-abu
Berbungkuss rindu yang makin kelabu
-Salam kegelapan-
Lelucon
macam apa ini? Apakah artinya aku sedang diteror? Seorang
Senja Wardhana ada yang meneror? Haha. Ini terlalu lucu.
Aku
menengok ke kanan dan ke kiri, mulai mencari sesuatu yang mencurigakan.
Setelah
memastikan tak ada apapun, aku kembali meneruskan tugas menyapuku kemudian
langsung masuk kedalam rumah.
***
Malam
ini aku tak bisa tidur.
Sudah
berkali-kali aku baca surat itu, nampaknya itu lebih mirip puisi ancaman.
Tapi
tunggu, jika puisi ini diikutsertakan dalam lomba, aku sudah jamin 100% bahwa
ia takkan menang.
Bagaimana
tidak? Hanya juri psikopatlah yang akan mengerti maksud puisi ini. Dan jika pun
menang, mungkin jurinya seorang psikopat.
Aku
bergidik ngeri membayangkannya.
Membayangkan
jika benar-benar senja akan berubah menjadi merah menyala atau abu-abu.
“Senja...”
tiba-tiba terdengar suara lirih dari balik jendela kamarku.
“Senja...”
“Senja...”
*Tok,
tok, tok* terdengar suara tangan mengetuk jendela kaca kamarku.
Ya
Rabb, siapa itu? Apakah aku berhalusinasi?
Jangan-jangan
itu si haus darah yang sedang mengincarku.
Aku
makin bergidik ketakutan kemudian menutupi tubuhku dengan selimut.
“Senja...”
suara lirih itu terdengar lagi.
-To
be continued-

Komentar
Posting Komentar