Ada kata ‘V’erjalanan diantara huruf U dan W





‘Kenapa ya kita bisa deket?’
Pertanyaan abstrak yang selalu kita tanyakan dan tak kunjung kita dapatkan jawabannya.
Semua kisah dan cerita, perjuangan dan perjalanan, haha hihi sampai tangis haru bermula dari tingkat 4.
Masa dimana kita ditinggal pergi satu- persatu oleh sahabat seperjuangan untuk merantau PKL ke luar kota.
Tersisa beberapa orang memang, namun saat itulah takdir mempertemukan kita.
Mempertemukan 2 manusia absurd yang memiliki banyak kesamaan, namun tak ayal pula memiliki perbedaan yang mencolok.

Selalu ada kisah menarik disetiap perjalanan kita.
Terlebih lagi insiden-insiden absurd yang terjadi menambah kekonyolan hidup kita.
Kechaplinan hidup melanda, membuat perut tergelitik kala tawa membuncah dalam rasa.

Aku tak pandai menulis, Wid.
Namun jari-jemari ini tak bosan untuk terus mengetik setiap kisah yang pernah kita lalui.
Mungkin tak perlu ada kata mulai dalam cerita singkat ini, karena jika ada kala mulai, maka harus ada kata akhir.

Wid, dirimu bilang bahwa hidayah selalu datang tanpa kita sadari.
Dalam bentuk apapun, bahkan lewat setiap cerita yang dirimu bagi padaku, bisa jadi itu adalah sebuah hidayah.
Dan selama ini aku terus menunggu hidayah itu.
Menunggu dan terus menunggu, namun aku tak kunjung mendapatkan hidayah itu.
Dan ternyata aku salah, hidayah itu harus kujemput.
Ya, dan setapak demi setapak perjuangan kita, telah mengantarkanku pada sebuah titik.
Titik yang baru kusadari sekarang, bahwa titik itu adalah sebuah hidayah.

Wid, telah banyak hal yang kita lewati.
Mulai dari jurusan hingga tugas organisasi
Mulai dari rencana-rencana hingga yang telah terealisasi.
Mulai dari waktu-waktu senggang hingga waktu sibuk mengisi.
Mulai dari ulul albab hingga masjid hizbul wathan.
Mulai dari universitas langlangbuana hingga sd karang pawulang.
Mulai dari insiden di parkiran siang itu hingga pembacaan puisi di ayunan malam itu.
Dan mulai dari tingkat 4 hingga sekarang, selalu ada cerita-cerita abstrak yang bisa kita kenang.

Entah kenapa selalu ada gemerisik tawa dan hembusan kesedihan kala kita bersua,
Selaksa kata yang kutulis mungkin tak cukup mewakilkan apa yang sudah terlewat,
Namun tulisan ini setidaknya pengobat rindu akan hari-hari yang sudah tak lagi membersamai.
Kala jemari tak kunjung henti, otak ku mulai berpikir kembali apa yang harus kuceritakan tentang perjalanan kita,

Oh iya, kita adalah penjelajah ulung yang pernah ada.
Dua manusia tak tau arah yang selalu andalkan google maps sesat sebagai panduan.
Seringkali salah jalan namun kita tak pernah kapok menggunakan jasanya.
Aku masih ingat kala aku dan dirimu ditabrak motor karena aku salah membaca arah.
Kepanikan melanda sambil aku terus merutuk diriku sendiri karena ke-alpaanku dalam membaca peta.
Namun setelah itu kita malah menertawai kejadian itu di sepanjang perjalanan.
Ah, betapa bodoh dan lucu nya kita.

Di setiap perjalanan dirimu tak pernah berhenti bercerita.
Menceritakan apapun yang sekiranya masuk ke logika.
Benar memang, rasanya begitu indah kala tertawa bersama dalam satu motor yang entah akan melaju kemana.
Sambil memutar arah dan mencari jalan, ceritamu tak akan pernah habis untuk kudengar.

Terlalu banyak mimpi dan target yang kita miliki.
Sejauh mata memandang, sejauh rindu yang kita tanam, sejauh harap yang tergantung  di langit, sejauh ufuk barat dan ufuk timur dan sejauh perbedaan-perbedaan kita yang terus melebur menjadi ke toleransian.
Ada do’a yang terpanjat kala tetesan-tetesan hujan turun ke bumi.
Do’a yang selalu sama, do’a pamungkas dari aku dan dirimu, itu, dan selalu itu.
Selalu ada harap di setiap do’a, berharap tahun ini kita sama-sama lolos SBMPTN dan masuk universitas yang sama, agar kelak kita bisa satu asrama dan bersama-sama kembali membuat jejak-jejak perubahan.
Planning-planning indah selalu kita susun dan tak ayal pula kita harus membanting setir karena planning itu berjalan tanpa komando dari sang nahkoda.
Aku selalu bertanya, akan seperti apakah nasib 2 orang abstrak macam aku dan dirimu yang telah ditinggal yang lain kerja merantau keluar kota?
Kita layaknya anak hilang, seperti hachi yang selalu mencari mamanya yang tak tau dimanakah keberadaanya.

Wid,
Dirimu adalah salah satu orang yang tak pernah bosan mendengar cerita ku.
Mendengar cerita tentang cita-citaku,
Tentang kegundahanku,
Tentang masalahku,
Tentang  nawaila dan harris,
Tentang OCD dan psikolog,
Tentang  ide-ide abstrak yang terlintas di pikiranku,
Bahkan tentang si ulfi yang tak terlihat keberadaannya.
Dirimu juga tak pernah bosan mendengar puisi-puisi absurdku,
Mendengar lagu-lagu yang kudendangkan dengan suara pas-pasan
Dan mendengar senandung bacaan qur-an ku yang tak berlagam.

Terlalu banyak kisah perjalanan yang sudah tak kuingat lagi.
Namun setidaknya kepingan-kepingan itu masih kusimpan.
Kepingan-kepingan saat kita begitu semangat belajar tahsin.
Kepingan-kepingan saat kita sibuk belajar untuk SBMPTN.
Kepingan-kepingan saat kita  mengurusi kegiatan organisasi,
Kepingan-kepingan saat kita mem-bolang ke berbagai penjuru tempat.
Kepingan-kepingan saat kita nyasar bersama google maps sesat.
Dan kepingan-kepingan saat kita saling bercerita tentang banyak hal yang telat kita lalui.
Tentang mimpi-mimpi, tentang cita, tentang harap, tentang kesedihan, tentang kemarahan, tentang kekesalan, tentang perasaan, hingga tentang iman yang mulai naik dan turun.

Kita benar-benar 2 manusia abstrak yang dipersatukan untuk saling melengkapi perbedaan.
Duo AB yang terkadang Aneh Banget, yang terkadang Absurd Beuh!, yang terkadang jadi Anak Baik, yang terkadang Aduh Bandel, dan terkadang kita menjadi Amat Berbeda.
Kita begitu kompak, saking kompaknya kita seringkali berselisih.
Hal paling absurd dan menjadi slogan kita adalah bahwa setiap hal yang serius selalu kita bercandain, dan hal bercanda selalu kita seriusin.
Benar memang, aku dan dirimu bukan seperti siang dan malam, bukan seperti air dan api, bukan seperti hitam dan putih, dan bahkan bukan seperti langit dan bumi.
Namun kita seperti pondasi dan bangunan.
Ada untuk saling menguatkan, bukan untuk saling menggantikan.

Hmm,
Aku memang bukan kawan terbaikmu.
Dirimu pun bukan satu-satunya sahabat yang kupunya.
Namun perlu kau catat, bahwa kau adalah anggota terbaik yang aku punya di societeit de limpai!

Wid, darimu aku mendapatkan banyak pelajaran.
Terutama pelajaran kemandirian.
Benar memang bahwa jangan pernah menggantungkan hidup pada makhluk-Nya.
Karena kekecewaan selalu dekat dengan hati yang berharap kepada selain-Nya.
Kesendirian itu mutlak.
Kita tak bisa terus menerus berharap untuk selalu bersama dengan orang yang sama.
Pergantian pemain itu wajar, bukan?
Bertemu dengan orang baru itu sebuah kepastian.
Maka aku coba selami hidup ini dengan berbekal kepercayaan kepada takdir-Nya.

Dari sekian perjalanan dan perjuangan yang telah kita lewati.
Aku setidaknya bisa mengambil beberapa hikmah.
Bahwa takdir Allah pasti selalu baik, Wid.
Entah hamba-Nya menyukai itu atau tidak, yang jelas itu yang terbaik untuk kita.
Perlu diingat Wid, bahwa bukankah Ia selalu punya rencana dibalik semua takdir-Nya?
Ya, termasuk takdir mempertemukan kita yang entah sampai kapan akan bersama.

Oh iya, aku masih ingat kala kita membungkus hadiah di masjid agung cimahi senja itu.
Kita sama-sama bercerita, bercerita tentang apapun, ngalor ngidul seperti biasanya.
Bercerita tentang mimpi, keluarga, masalah, masa depan dan kechaplinan hidup yang kita lalui bersama selama ini.
Aku ingat kala dirimu menggodaku dengan berkata, ‘Fa, kalau kamu dilamar, orang pertama yang kamu kasih tau aku ya?’
Dan aku membalas candaan itu dengan berkata, ‘Wid, kalau kamu nikah aku yang jadi pager ayu nya ya.’
Dan kemudian kita tertawa bersama-sama, tawa yang begitu renyah.
Menertawakan kekonyolan kita yang memang sudah mendarah daging terpatri dalam diri.

Benar memang, dirimu pernah berspekulasi bahwa tingkat kenyamanan kita terhadap seseorang adalah dengan mengukur sifat ke ’apa-adaannya’ diri kita.
Jika kita bersikap apa adanya dan menjadi diri kita sendiri di depan orang tersebut, bisa dibilang bahwa kita sudah nyaman dengannya.
Aku senang karena aku selalu bisa menjadi diriku sendiri denganmu, bersikap absurd dan kekanak-kanakan seperti biasanya.
Bersikap seenaknya dan selalu ‘jahat’ terhadapmu, itu hal paling menyenangkan yang kulakukan. Yang tak bisa aku lakukan pada orang lain, haha.
Kau pun sampai tau segala hal remeh tentangku, tentang kebiasaan kagetku, tentang siaga satu si ulfi, tentang rasa takutku pada kucing, tentang banyolan-banyolanku bahkan tentang OCD dan cita-cita ku untuk jadi psikolog.
Haha, aku sekarang bisa tertawa renyah karena ingat semua itu masih tersimpan rapi dalam memori otakku.
Dan satu hal yang kupelajari dari kisah perjalanan kita adalah, rasa nyaman itu terlalu mahal untuk dibeli.

Hmm, tunggu sebentar, tulisan macam apa ini?
Aku bahkan tak mengerti mengapa tiap paragraf dalam tulisan ini tak berkorelasi.
Ah biarlah, yang pasti kamu akan tetap melanjutkan membacanya kan?
Haha, aku tertawa sendiri dalam hati.

Oh iya, aku perlu berterimakasih pada motormu.
Ia selalu setia membersamai perjalanan kita selama ini.
Perjalanan menuju tempat-tempat terbaik di penjuru cimahi dan bandung.
Aku pun masih ingat bahwa motormu tak pernah mengeluh membawa diriku yang tak ber-massa ini pergi kemana-mana.
Aku juga perlu meminta maaf karena telah membiarkan sebagian kecil dari motormu tertabrak motor orang lain akibat kealpaanku membaca arah.
Dan aku perlu berterimakasih terhadap motormu karena ia tak marah akibat telah menabrak motor orang lain di parkiran universitas langlangbuana siang itu akibat ketidaktahuanku dalam membantumu memarkir motor.
Suatu hari nanti mungkin aku akan sangat merindukan motormu yang selalu setia membersamai perjalanan kita.

Wid,
Aku bukan Bujang yang tak memiliki rasa takut dalam hidupnya.
Aku juga bukan Alif Fikri yang mampu menggetarkan hati banyak orang karena muhadharahnya.
Apalagi, aku bukan pula Nawaila Mandala Parawansa, putri bungsu si anak jendral yang memiliki keteguhan hati yang luar biasa, yang begitu beruntungnya ia bisa mendapatkan Nizam Harris.
Ya, aku hanya manusia yang masih mencari jati dirinya, Wid.
Ketika kelabilan banyak meggodaku, dengan sigap aku ingat bahwa mimpi itu masih tergantung di langit.
Ketika motivasi ku menurun, dengan tangkas dirimu selalu menyemangati diri ini dengan pepatahmu yang sok bijak itu.
Bahkan ketika ketakutan menyerangku, menhancurkan sebagian rasa percaya diriku bahkan hampir membuatku kalah oleh si ulfi yang tak terlihat itu, dengan lantang kau berkata ‘lawan Fa!’
Ya, dan aku selalu merasa terhipnotis oleh semua itu tatkala diri ini mulai terjun bebas menuruni jurang dalam yang gelap itu
Aku akan tetap berdiri mematung mungkin jika tak ada uluran tangan yang menarikku ke atas.
Dan satu hal yang aku banggakan dari dirimu adalah sifat chaplin mu  yang sekarang belum terganti oleh siapapun.

Kisah apa lagi yang harus kuceritakan?
Apakah aku sudah lupa? Tidak mungkin, aku adalah penyimpan kenangan terbaik, mana mungkin aku lupa.
Ah, aku mulai membanggakan diriku sendiri, padahal fitrah manusia memang pelupa.
Satu, dua dan tiga, mungkin perlu banyak angka yang kuhitung agar kisah itu muncul kembali dalam pikiran,

Oh iya,
Aku selalu suka menceritakan part ini di novel pulang yang pernah aku baca.
Bahwa memang benar Wid, ‘Hidup itu bukan tentang mengalahkan siapapun. Hidup itu hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran’
Dan satu lagi, jika hari menyakitkan datang menghampirimu, ‘Jangan lawan hari-hari menyakitkan, jangan pernah! Karena pasti kau akan kalah. Mau semuak apapun kau dengan hari-hari itu, matahari akan tetap terbit indah. Mau sejijik apapun kau dengan hari itu, matahari akan tetap memenuhi janjinya, terbit dan terbit lagi tanpa peduli apa perasaanmu. Kau keliru sekali bila berusaha melawannya, membencinya, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Peluklah semuanya, peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu! Hanya itu agar hatimu damai. Semua pertanyaan, semua keraguan, semua kecemasan, semua kenagan masa lalu, peluklah mereka erat-erat. Tidak perlu disesali, tidak perlu dibenci. Buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun?’

Dan suatu hari nanti.
Kau pasti akan memiliki kawan lain yan lebih baik dari diri ini.
Kawan abstrak yang lebih abstrak sifatnya dari diri ini.
Aku pun juga begitu, suatu hari nanti aku akan bertemu banyak orang diluar sana yang mungkin akan sama chaplinnya dengan dirimu.
Namun perlu dirimu ingat, perjalanan-perjalanan kita selama ini  akan selalu menjadi bungkusan terindah dalam kotak memori kenangan yang kusimpan dalam salah satu sudut di hatiku.

Teruntuk saudara seimanku,
Sahabat seperjuangan.
Kawan bertengkar.
Teman kebahagiaan dan
Rekan kechaplinan.

Bila esok hari kita tak bertemu lagi.
Bila esok hari jalan kita telah berbeda.
Bila esok hari kita telah menempuh jalan kita masing-masing.
Ingatlah bahwa aku pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupmu.
Karena kelak, takdir akan mempertemukan kita kembali
Dan saat itulah,
Saat-saat dimana aku tak akan lupa.
Bahwa aku begitu bahagia karena pernah menjadi bagian dari kisah hidupmu.


Semoga Allah pertemukan kita kembali di Syurga-Nya kelak.. J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN PEMBELAJARAN DIAGNOSA WAN

Kala Senja Tak Lagi Jingga

'W' ith yo 'U'