Di!
Senja
hari ini terlihat cerah seperti biasanya.
Ya,
bahkan begitu menawan dengan nuansa jingga dilangit sana.
Namun
tetap saja, secerah apapun senja hari ini, hatiku tetaplah kelam.
Aku
raih buku catatanku, kemudian aku ambil pensil.
Berharap
rasa kelam ini mulai meredup seiring dengan tumpahnya kata-kata yang kutulis
dalam buku catatanku.
CATATAN
KELAM SENJA
Setiap
manusia terlahir ke dunia sendirian, begitupun juga mati, bukankah aku juga
akan sendiri?
Wajar
memang bila dalam perjalanan kehidupan ini aku menemukan ‘part’ dimana aku
seorang diri.
Meninggalkan
dan ditinggalkan harusnya sudah jadi makanan sehari-hari.
Terlebih
lagi, sudah 19 tahun aku lewati.
Sudah
banyak aku rasakan orang baru datang silih berganti, bersamaan dengan perginya
orang-orang yang aku kasihi.
Tapi
kali ini,
Rasanya
seperti ombak menerjang kapal berlayarku.
Laksana
angin menghempaskanku ke jurang yang dalam dan sepi.
Ya,
baru kali ini rasa itu menyeruak hadir.
Rasa
yang belum pernah aku rasakan ketika aku ditinggalkan oleh ‘sahabat seperjuangan’
ku yang lain.
Rasa
yang baru aku rasakan ketika aku ditinggal pergi merantau olehmu. Lebih
tepatnya ditinggal pergi dengan komitmen masa depan yang padahal sudah kita
buat sebelumnya.
Ya,
komitmen masa depan yang sama.
Aku
bahkan masih ingat.
Ketika
aku membuat keputusan yang amat sulit.
Keputusan
yang pada akhirnya membuatku harus membanting setir.
Membanting
setiap rencana-rencana yang telah aku buat sebelumnya.
Ya,
Dirimu
salah satu alasan yang membuatku ingin kuliah tahun ini.
Dirimu
lah alasan yang aku punya untuk tekad kuat yang aku buat.
Dan
aku begitu semangat untuk mengikuti jejakmu.
‘Dimanakah
kampus impianmu?’
Dan
dengan lantang dirimu menjawab, ‘POLBAN!’
Aku
bisa melihat semangat dalam dirimu.
Aku
bisa melihat harap dimatamu.
Dan
aku bisa melihat tekad kuat tertanam dihatimu.
Ya,
dan itulah yang selalu ku kagumi dari sosok orang sepertimu.
Namun
hari itu,
Tanggal
3 Juni 2016,
Aku
tahu sesuatu, fakta bahwa dirimu memutuskan untuk kerja di lintas arta
purwakarta.
Ya,
dan kau tahu kalau itu keputusan yang berat bagimu.
Dan
seketika, semua hening, aku pun terdiam,
dan kemudian aku merenung dan lebih banyak berpikir tentang masa depanku tanpa
dirimu lagi disini.
Terlalu
berlebihan memang diriku ini, tapi biarlah, yang terpenting, saat ini aku hanya
ingin menulis, menumpahkan segala kekelaman yang kurasakan sekarang.
Saat
itu aku memang kecewa.
Kecewa
karena keputusanmu yang memilih untuk bekerja.
Tapi
aku tau, ukh.
Kesempatan
tak akan datang dua kali kan?
Dan
aku pun tau bahwa keputusan ini begitu sulit untukmu.
Ya,
dirimu mengorbankan sesuatu yang bahkan aku tau itu amat penting bagimu.
Tapi
dirimu dengan begitu hebatnya mengambil keputusan ini.
Mengambil
kesempatan untuk masa depan orang-orang tercintamu sebelum pada akhirnya dirimu
harus memutuskan untuk mengubur mimpi mu sejenak.
Aku
yakin, setiap kejadian pasti selalu ada hikmahnya, ukh.
Begitupun
dengan kejadian ini, dan yang terpenting, aku telah belajar sesuatu dari
dirimu.
Kau
mengajarkanku akan arti kesendirian.
Bukan
berarti anti sosial, tak sesempit itu yang ku tau.
Tapi
dirimu menerjemahkan kesendirian itu lebih kepada kemandirian, sebuah sifat
yang aku tau tak semua orang miliki.
Dan
itu tertanam jelas dipikiranku ketika kau perlahan pergi merantau ke purwakarta
Seolah
terhisap oleh kenangan masa lalu, manis pahit perjalanan yang telah kulewati
bermunculan dalam memori ini.
Dan
benar saja, sisa-sisa ingatan ini membuatku lebih tegar dan mandiri untuk
menjalani hari-hari yang pasti akan kubersamai.
Hikmah
selalu ada, ukh
Sepahit
apapun kejadian, percayalah bahwa hikmah dibalik kejadian itu akan semakin
manis.
Maka
aku selalu percaya pada takdir-Nya yang pada akhirnya memilihmu untuk
melanjutkan kerja ke purwakarta.
Karena
aku tau, dirimu itu laksana laut yang biru, begitu dalam dan luas keyakinanmu,
hingga aku bisa menyelaminya hingga ke dasar.
Namun
aku tak bisa berlama-lama menyelam disana, karena aku tau ada saatnya ombak
datang menerjang.
Ada
do’a-do’a manis yang terpanjat dariku disini untuk dirimu di purwakarta sana.
Teruslah
raih cita-citamu, ukh
Berjanjilah
ketika kita bertemu nanti di beberapa tahun yang akan datang, kita telah sukses
dengan pilihan kita masing-masing J
Oh
iya ukh, kata-kata ini berhasil membuat semangatku naik kembali.
Salah
satu part di novel Negeri 5 Menara yang juga aku suka.
“Wejangan
kiai Rais terasa dekat, “Jangan berharap dunia yang berubah, tapi diri kita lah
yang harus berubah. Ingat anak-anakku, Allah berfirman, Dia tidak akan mengubah
nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendirilah yang melakukan perubahan. Kalau
kalian mau sesuatu dan ingin menjadi sesuatu, jangan hanya bermimpi dan
berdo’a, tapi BERBUATLAH, BERUBAHLAH, LAKUKAN SAAT INI. SEKARANG JUGA!””
Bahwa
benar ukh, Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan berhasil
kan? J
Terus
gapailah cita-citamu.
Jangan
pernah menyerah!
Kita
sama-sama berjuang ^^
Kesendirian
bukan sesuatu hal yang harus ditakuti bukan?
Justru
dengan kesendirianlah aku bisa lebih memahami diriku sendiri.
Terimakasih
telah mengajarkanku sesuatu yang begitu berharga, tanpa dirimu, mungkin
sekarang aku belum bisa melihat arti kemandirian yang sesungguhnya.
Dan
ingat, MAN JADDA WAJADA..
SIAPA
YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH PASTI AKAN BERHASIL..
-Salam
sukses dari sahabat seperjuanganmu di cimahi-
Cimahi,8
Juli 2016
21:56

Komentar
Posting Komentar