Ramadhan, Aku Belum Bisa Move On





Nampaknya Ramadhan kali ini menorehkan sejuta perasaan bahagia untukku.
Terlebih lagi di Ramadhan tahun ini ada banyak hal yang bisa aku pelajari.
Ada banyak pengalaman yang aku lalui.
Manis, asam, pahit, asin, sampai hambar. Pokoknya rame rasanya.

Ini dimulai ketika temanku mengajakku untuk bergabung dengan grup ODOJ (Komunitas tilawah One Day One Juz).
Saat itu aku kira aku belum siap, mengaji setengah juz saja masih belum bisa aku istiqomahkan. Apalagi satu juz?
Aku pikir itu tak mungkin.
Tapi untuk menyenangkan temanku dan tak enak juga karena ia telah mengajakku pada kebaikan, akhirnya aku bergabung walau dengan setengah hati.

Luar biasa memang hasilnya.
Awalnya aku merasa aku tak akan mampu, tapi Allah Maha Memudahkan jika memang hamba-Nya mau berusaha.
Dan Alhamdulillah, aku mulai belajar istiqomah.
Aku rasa ini adalah awal dari perbaikan hidupku.
Meskipun sekarang aku masih belum bisa merasakan nikmat berlama-lama dengan Al-Qur’an, belum bisa merasakan nikmat saat membaca ayat Al-Qur’an, namun setidaknya aku sedang mencoba.
Mencoba mengambil garis start untuk mencapai garis finish di ujung jalan sana.
Aku tak mempermasalahkan jika pada nantinya akan ada yang lebih dulu mencapai garis finishnya.
Tapi bukankah yang terpenting adalah prosesnya?
Karena hati pun butuh proses.

Selain itu, di Ramadhan kali ini pun aku belajar bagaimana rasanya menjadi ‘pengajar muda’.
Terdengar keren agaknya, tapi sungguh, bagiku itu memang benar-benar keren.
Bahkan aku pun tak percaya bahwa aku bisa melakukannya.
Awalnya aku akan mundur, bagaimana tidak? Ada 11 pengajar dan tiap-tiap pengajar diharuskan mengisi satu kelas.
Bayangkan saja, berbicara di depan beberapa orang yang tak aku kenal pun aku masih kikuk. Apalagi berbicara di depan anak-anak SMP yang semuanya tak aku kenal.
Tapi saat itu, temanku berkata dan itu memang agak sedikit menyindir.
Kurang lebih intinya adalah seperti ini.
“Gimana sih Fa, kamu mah belum berperang aja udah kalah. Ga usah takut, biasa aja meren, ngomong weh ngacapruk, apa gitu. Kamu juga kan biasanya emang capruk.”
Bah, kalimatnya seolah nyemangatin padahal rada nge ‘jleb’ gimana gitu. Haha.
Setelah mendengar kata-katanya, belum terasa efek apapun. Tapi kemudian, entah kenapa aku malah merasa semakin gelisah.
Aku coba tenangkan diriku dan berbisik dalam hati ‘Tenang Fa, ada Allah’.
Berkali-kali aku katakan itu dalam hati, dan rasa gelisah ini akhirnya menyusut dan menjadi semakin kecil.

Di jam pertama, aku begitu gembira, pasalnya tak ada kelas kosong lagi dan itu artinya aku bisa mengisi kelas bersama dengan temanku.
Tapi tak dinyana, tiba-tiba seorang guru masuk menghampiri kami.
‘Neng, itu dikelas sebelah sana masih kosong ga ada yang isi. Minta tolong ya pindah satu kesana.’
*glek* Aku menelan air ludahku sendiri.
Temanku manatapku penuh harap, rasanya aku ingin menjitaknya saat itu juga.
“Fa, kamu aja”
“Engga ah, kamu aja. Aku disini. Ya ya ya?” rengekku padanya
“Fa, laptop aku udah terlanjur disini. Ayolah.”
Guru itu tetap menunggu dan menonton pergulatanku dengan temanku ini.
“Baiklah” dengan agak masam aku ambil tas dan pamit pergi menuju kelas yang kosong.

Dan jeng jeng, aku syok karena melihat seisi kelas itu ikhwan (laki-laki) semua.
Ya Rabb, berbicara di depan akhwat (perempuan) kelas tadi saja aku masih kikuk, bagaimana dengan ikhwan? Disitu aku hampir frustasi.
Aku tenangkan diriku dengan berkata dalam hati ‘Tenang Fa, ada Allah’.
Dan itu cukup berhasil untuk mengusir rasa gelisah dalam diriku.
Kemudian aku mulai menyampaikan materi yang harus aku sampaikan pada mereka.
Rada canggung memang, tapi setidaknya aku sudah mencoba menampilkan yang terbaik.
Sesekali mereka tertawa dan menggodaku dengan banyolan banyolan mereka.
Yah, aku rasa itu mungkin sebuah salam perkenalan.
“Sekarang waktunya main games, kalian mau main apa?” tanyaku
“PES, sepakbola, congklak, futsal” ucap mereka sahut-sahutan.
Ya Rabb, kiranya mereka memang anak-anak yang begitu cerdas. Aku tersenyum dalam hati.
Dan pada akhirnya, aku rasa aku lumayan sukses di hari pertamaku dalam menjalankan tugas sebagai ‘pengajar muda’.

Di hari berikutnya aku mulai menyesuaikan diri dengan mereka.
Aku rasa ini begitu menyenangkan. Berhadapan dengan remaja-remaja SMP yang masih memiliki tingkah seperti bocah SD.
Rasanya aku seperti kakak untuk mereka.
Aku ingat satu mimpiku yang aku tulis di buku catatanku.
Mimpi nomor 51 kalau tak salah, yang bunyinya ‘Bisa berbicara di depan orang banyak’.
Dan sekarang, aku masih tak percaya pada diriku sendiri bahwa aku sekarang mampu melakukannya.
Ya Rabb, pada awalnya aku begitu takut, tapi akhirnya aku bersyukur sekali Dirimu memberikanku kesempatan untuk menjadi ‘pengajar muda’ meskipun hanya dalam waktu 4 hari.
Dan begitu banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang bisa aku ambil.

Selain itu, di Ramadhan tahun ini aku berkesempatan menjadi panitia pesantren kilat selama dua hari.
Terasa kilat memang karena hanya dua hari, tapi persiapannya membutuhkan waktu berhari-hari.
Kami saling bahu-membahu dalam mempersiapkannya.
Peluh, lelah, letih, lesu, dan berbagai perasaan lainnya memang kami rasakan.
Tapi kami tahu bahwa pada nantinya itu akan terobati jua kelak di Jannah-Nya.
Banyak pelajaran yang bisa aku ambil.
Selain itu aku juga belajar berkomunikasi dan berkenalan dengan orang-orang baru yang belum aku kenal.
Tentunya itu menambah relasi dan silaturahim juga.

Selain itu, di Ramadhan tahun ini aku juga mengikuti salah satu acara tentang ke Qur’anan.
Nama acaranya adalah SBQ (Sehari Bersama Qur’an).
Awalnya aku takkan ikut.
Alasannya begitu jelas, aku malu. Karena pasti disana akan ada pertanyaan, sudah berapa juz ngajinya? Atau pertanyaan, siapa yang sampai ramadhan hari ini sudah khatam qur’an sekian kali?
Ah, dan aku merasa malu karena aku belum khatam Qur’an satu kali pun sampai saat itu di bulan Ramadhan.
Tapi Ya Rabb, aku luruskan lagi niatku.
Biarlah, hamba-Mu ini memang hina, tapi setidaknya sekarang hamba-Mu ini sedang berproses menjadi lebih baik.
Berproses untuk lebih mencintai Al-Qur’an.
Karena bukankah seseorang yang membaca Qur’an dengan terbata-bata pun tetap mendapat pahala? Dan Allah memberinya dua, bukan satu.
Itu amat indah Ya Rabb.

Setelah mengikuti acara SBQ, aku rasa aku makin merasa kerdil.
Sudah berapa lama aku lewatkan hari-hariku tanpa Al-Qur’an?
Aku benar-benar malu, Ya Rabb.
Tapi sungguh, karena itulah, aku merasa makin semangat untuk terus dekat dengan Al-Qur’an dan mencoba istiqomah untuk tilawah.

Selain itu, di Ramadhan tahun ini aku juga semakin mengenal apa arti dari takdir-Mu.
Karena pada bulan Ramadhan tahun ini lah hasil SBMPTN dan SIMAK UI diumumkan.
Aku selalu berharap diberi yang terbaik oleh-Mu, apalagi ini bulan berkah, bulannya do’a. Bahkan sepanjang hari di bulan Ramadhan adalah waktu-waktu yang mustajab untuk berdo’a kan Ya Rabb?
Namun ternyata, mungkin memang belum rezeki ku untuk lolos SBMPTN dan SIMAK UI tahun ini.
Ya, aku selalu berdo’a meminta yang terbaik.
Dan Engkau berikan ini, aku begitu bersyukur Ya Rabb.
Seperti kata Ali Bin Abi Thalib,
'Saya meminta sesuatu pada Allah.
Jika Allah memberinya padaku, saya gembira sekali saja.
Namun jika Allah tak memberinya padaku, saya gembira sepuluh kali lipat.
Sebab, yang pertama itu pilihanku, sedangkan yang kedua itu pilihan Allah.'

Dari sini aku belajar untuk selalu husnudzon pada-Mu.
Pada takdir-takdir-Mu.
Karena aku tahu, takdir-Mu pasti baik Ya Rabb.

Dari keseluruhan perjalananku di Ramadhan tahun ini, aku patut bersyukur karena melewati kisah-kisah ini.
Patut bersyukur karena Dirimu masih memperkenankanku untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.
Bersyukur karena Engkau memberikan banyak hidayah padaku.
Dan terlebih lagi, di Ramadhan tahun ini, aku mulai belajar bagaimana berproses untuk menjadi lebih baik.

Ah Ramadhan, aku masih belum bisa move on darimu...

-Salam rindu untukmu Ramadhan-

Cimahi, 12 Juli 2016
11:40

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN PEMBELAJARAN DIAGNOSA WAN

Kala Senja Tak Lagi Jingga

'W' ith yo 'U'