Kala Senja Tak Lagi Jingga (2)



Part 2
Cinta Yang Hilang


“Senja..”
Ah sial, suara itu terdengar lagi. Membuat aku semakin merapatkan selimut dan bersembunyi dibaliknya.
Namun, semakin aku mendengarnya, semakin aku mengenal tipe suaranya.
“Senja, tolong buka jendelanya..” kali ini suara nya terdengar begitu putus asa.
Astaghfirullah, aku tahu ini suara siapa. Aku bergegas membuka jendela dan tadaaa, Aul sudah berdiri didepanku memperlihatkan muka kusutnya yang berlinang air mata.
Ia langsung memelukku dan menangis.
“Ul, masuk dulu yuk..”
Aku segera membuka seluruh bagian jendela agar Aul bisa masuk.

Sudah beberapa menit berlalu, Aul masih menangis dalam pelukanku.
Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, namun yang pasti, disaat-saat seperti ini yang ia butuhkan adalah tempat mengadu. Dan aku selalu siap untuk itu.
“Ul, udah deh ga usah nangis terus. Nanti air mata kamu habis..” ucapku setengah ngelantur.
“Kamu mau ngehibur apa ngeledek sih?” ujarnya masih dengan nada lirih.
Aku tersenyum tipis, usahaku berhasil untuk membuat Aul berbicara.
“Jadi, kamu nangis gara-gara apa sih? Bikin orang takut aja tau ga malem-malem. Aku kira kamu pembunuh bayaran yang dikirim orang buat ngabisin aku..” aku berucap tanpa henti.
“Kamu kenapa sih kalau ngomong selalu capruk, Ja? Ga paham deh haha..”
Aul tertawa kecil, kemudian aku pun ikut tertawa. 

***

Aku dan Aul adalah sahabat dari kecil. Wajar saja jika aku dan dia sudah seperti saudara. Rumah kami begitu dekat, bukan dekat lagi, tapi memang tetanggaan. 
Aku dan Aul hanya beda satu tahun, tentunya Aul yang lebih tua.
Sudah hal yang lumrah memang jika aku dan Aul bermain hingga larut. Aku pernah menginap dirumahnya, dan Aul pun seringkali berdiam di rumahku untuk sekedar cerita cerita dan belajar.
Intinya, aku dan Aul tak terpisahkan satu sama lain.

***

Jam dinding dikamarku menunjukkan pukul 9 lewat 20 menit. Dan aku masih saja asyik bercerita dengan Aul malam ini.
“Jadi kamu kenapa nangis? Pertanyaan aku belum dijawab hey!”
“Ya biasalah, kamu pasti udah bisa tebak kenapa..”
“Gara-gara Reno lagi?” tanyaku
Dan Aul hanya mengangguk.
“Kenapa? Berantem lagi?”
“Lebih parah dari itu, Ja..”
Aul berhenti sejenak, menghela nafas panjang. Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca.
Oh tidak, sepertinya jika aku tak bertindak, dia akan menangis lagi.
“Udah deh ga usah nangis lagi, jelek tau muka kamu,Ul. Haha..” aku mulai menghibur.
“Yeh, siapa juga yang  mau nangis. Bener-bener ya kamu emang semprul, Ja” Aul berkata sambil memeletkan lidahnya.
“Jadi kenapa kamu sama Reno? Putus?” aku bertanya asal
“Iya” ucapnya lirih
Kemudian Aul kembali terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
“Alhamdulillaaaaaaaaaah” ucapku sambil diiringi dengan sujud syukur.
Ketika aku bangkit dari sujud, Aul melempari ku dengan tiga bantal sekaligus dan berseru ‘Semprul dasar! Sahabat lagi sedih malah sujud syukur!’ ia tersenyum masam.
Aku hanya membalasnya dengan senyum geli kemudian tertawa.

***

Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Aul tertidur juga dikamarku. Sudah kebiasaan memang, kalau sudah begini aku juga yang harus memberi tahu ibunya Aul bahwa malam ini Aul menginap dirumahku.
Malam ini Aul kehilangan salah satu cintanya, aku begitu bersyukur ia putus dengan Reno, itu artinya Aul tak menabung dosa lebih banyak dengan Reno.
Sebenarnya aku sudah berkali-kali mengingatkannya untuk putus, tapi ia selalu berdalih bahwa ia terlalu mencintai Reno.
Memang masa-masa remaja adalah masa pubertas, wajar menyukai lawan jenis. Tapi ya sekadarnya saja lah, toh pada akhirnya jodoh itu rahasia-Nya.
Malam ini aku mendapat pelajaran yang berharga, bahwa Allah mematahkan hati Aul bukan tanpa alasan, Ia mematahkan hati Aul untuk menghindarkan Aul dari cinta yang salah.
Aku bersyukur Ya Rabb Engkau telah meluruskan sahabatku kembali.

Berbicara tentang cinta yang hilang, aku pernah berpikir, apakah cinta diantara bapak dan ibuku telah hilang?
Mereka berdebat dan beradu pendapat seolah-olah tak ada cinta dalam diri mereka.
Mereka pasti pernah saling mencintai, tapi apakah cinta itu tak bersisa?
Jika dua orang saling mencintai, bukankah mereka akan saling mengerti?
Bukan seringkali berselisih seolah-olah kata cinta tak pernah hadir mengisi.
Aku selalu menyayangkan mengapa harus aku yang mengalami ini, mengalami hari-hari yang dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan kecil yang pada nantinya akan berbuntut panjang tiada henti.
Ah, apakah benar cinta mereka telah hilang?
Pasti ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk mengembalikannya.

Jam telah menunjukkan pukul 23.36 dan aku belum juga tidur. Sepertinya aku terkena insomnia.
Sebenarnya bukan itu saja,salah satu hal yang masih terus mengganggu pikiranku adalah puisi ancaman itu.
Aku selalu bergidik ngeri membayangkan jika ia benar-benar datang.
Aku berusaha memejamkan mata ketika tiba-tiba handphone ku bergetar.
Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
Siapa pula yang meneleponku malam-malam begini.
Aku tekan tombol hijau dan kuucapkan ‘Assalamu’alaikum’, sedetik kemudian terdengar suara berat di ujung telpon sana dan berkata ‘Selamat malam Senja, salam kelam dari aku si pekat malam.’
Aku merasa jantungku berhenti berdetak, buru-buru kututup telponnya dan bergegas untuk tidur.
Ya Rabb, aku berharap yang tadi adalah mimpi.


-To be continued-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN PEMBELAJARAN DIAGNOSA WAN

Kala Senja Tak Lagi Jingga

'W' ith yo 'U'