Solitario






Kali ini aku menyerah,
Bahkan tangis pun saat ini tak membantu ku meredakan rasa sesak di hati,
Air mata yang sudah terlanjur jatuh membuatku makin terisak lebih dalam,
Pipiku memang belum basah,
Tapi mataku pada akhirnya sembab jua.

Aku rasa aku harus berhenti,
Berhenti dari segala percobaan ini dan mulai merenung,
Merenung memikirkan masa depanku yang entah akan kemana aku labuhkan.

Aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan mimpiku terserak begitu saja,
Aku juga bukan orang dungu yang tak punya mimpi untuk aku kejar,
Namun masalahnya adalah, aku masih terlalu bingung dalam mengambil keputusan.

Benar-benar remaja labil memang,
Padahal usiaku sudah sembilan belas tahun,
Namun aku masih labil jua,
Ah, dasar remaja ala-ala.

Tak kusangka akan secepat ini aku lambaikan bendera putih ke udara,
Aku tau ini takkan berakhir bahagia,
Tapi setidaknya, satu beban yang selama ini aku bawa bisa terlepas.

Entahlah, Ning!
Sepertinya aku harus kembali mencuci otakku,
Membiarkannya sejenak direndam dengan air rinso dan pengharum molto,
Kemudian aku jemur dibawah terik mentari agar berfungsi kembali dengan semestinya,
Biarkan itu terjadi,
Toh pada akhirnya aku pun tak tau akan kemana arah tulisan ini aku bawa.

Meskipun jam telah berdentang tiga kali,
Aku masih khusyuk dengan tulisan abstrak ini,
Biarlah, toh aku bukan cinderella yang harus segera pulang agar kereta kudanya tak berubah menjadi labu.

Meskipun jemariku belum berhenti mengetik,
Namun aku sadar bahwa kemampuan otakku ini sekarang telah mencapai ala kadarnya,
Maka dari itu, Ning, tolong biarkan aku tetap berada di alam bebas,
Agar oksigen yang aku hirup pun semakin bebas berkejaran di alveoli ku,
Masa bodoh dengan peran mitokondria,
Bahkan sejak tadi bakteri pun telah memicingkan matanya untuk sekedar mengetahui siapa target selanjutnya.

Kali ini aku benar-benar tak peduli,
Biarkan jelaga membawaku pergi,
Di keheningan malam yang semakin menyepi.

Hening seolah berbisik,
Menggoyangkan daun-daun hingga bergemerisik,
Sok puitik!

Dengan segala kearifan aku pergi,
Cukup sampai disini,
Entahlah, yang pasti saat ini aku sedang ingin sendiri,
Menyepi bersama sepi.

Cimahi, 10 Juli 2016
10. 38 PM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CATATAN PEMBELAJARAN DIAGNOSA WAN

Kala Senja Tak Lagi Jingga

'W' ith yo 'U'